//

Saturday, 27 June 2020

Beragama secara Digital

Assalamuálaikum, hai sobat mukallaf, sudah lama tak nulis diblog. Sempat terhenti karena beberapa hal yang mungkin belum ada mood untuk nulis lagi. Padahal banyak peristiwa-peristiwa yang akhir-akhir ini menjadikan kita harus merubah semua pola-pola kehidupan yang sudah kita jalani hari-hari sebelumnya, terutama bagi kita orang yang awam.
Oke sobat Mukallaf, kesempatan kali ini saya ingin sedikit berbagi cerita kepada teman-teman semua tentang keadaan disekitar kita yang akhir-akhir ini kita semua dihadapkan pada kondisi-kondisi yang tidak sewajarnya, bahkan diluar nalar kita.
Kemajuan teknologi yang sekarang ini, mengharuskan kita untuk berupaya mau tidak mau harus melakukannya, terlepas dari urusan duniawi maupun ukhrowi. Tak terlepas masalah agama, selain kita dihadapkan pada kemajuan teknologi berbasis digital kita juga dihadapkan pada musibah Covid-19. Berbagai macam peraturan dan Fatwa dilontarkan demi menjaga stabilitas kesehatan dan keamanan, yang terkadang aturan atau fatwa tersebut seperti membuat kita sulit untuk berbuat sesuatu. Dari hal tersebut saya tertarik untuk sharing dan berdiskusi untuk membahas tentang Beragama secara Digital.
Kenapa tidak memilih misalnya beragama di masa pandemic covid-19? Sepertinya sudah banyak yang menguraikan hal tentang itu. Mungkin judulnya aneh kederangannya, masa beragama secara digital, apakah ibadah-ibadah juga akan dalam bentuk digital? Belum tau juga, maka perlunya kita mengurai satu kata demi satu kata untuk menemukan maksud dari beragama secara digital.
Apa itu Beragama?
Coba kita cari tahu kata-kata beragama, menurut KBBI online Kemdikbud, beragama memiliki tiga arti 1). menganut (memeluk) agama; 2). beribadat; taat kepada agama; baik hidupnya (menurut agama); 3). sangat memuja-muja; gemar sekali pada…; mementingkan. Dari ketiga pengertian tersebut, paling tidak kita bisa membedakan kalimat yang didalamnya menggunakan kata beragama. Sebagai contoh, saya beragama Islam dan dia beragama Kristen. Dari kalimat tadi kata beragama memiliki arti memeluk, menganut agama. Contoh kalimat sederhana lagi,  Dia adalah seorang yang beragama kuat. Dari kata beragama kuat, apakah diartikan sebagai menganut/memeluk agama kuat? Tentu tidak donk, jadi beragama bisa diartikan sebagai orang yang taat ibadah, taat pada agama, dan bisa juga memiliki arti kuat pemahamannya tentang agama.
“Kita tidak dapat mengakui bahwa setiap orang yang mengaku beragama itu pasti mempunyai segala sifat-sifat yang baik.”
~ Imam Abu Hamid Al Ghazali ~
Dari contoh kata bijak diatas menyebutkan bahwa orang yang beragama belum tentu baik, lantas muncul pertanyaan bagaimana beragama? Agar dengan beragama memiliki sifat-sifat yang baik.
Kita mendapat ilustrasi sedikit dari kalimat diatas bahwa orang yang beragama (memeluk agama) belum tentu dia beragama (beribadah sesuai ajaran agama/taat kepada ajaran agama) yang menjadikannya tidak memiliki sifat-sifat beragama (memahami dan mengamalkan ajaran agama).
Jadi dapat kita fahami maksud Beragama di sini adalah pemahaman kita tentang agama/atau ajaran agama, sehingga kita mampu untuk menjalankan ajaran agama (beribadah) atau ketaatan kita dalam menjalankan perintah dan larangan agama.
Selanjutnya, Apa itu Digital?
Digital berasal dari kata Digitus, dalam bahasa Yunani berarti jari jemari. Secara istilahada beberapa orang yang meberikan definisi atau pengertian tentang Digital.
  • Digital memiliki pengertian penggambaran dari suatu keadaan bilangan yang terdiri dari angka 0 dan 1, atau off dan on (bilangan Biner atau disebut juga dengan istilah Binary Digit).
  • Digital adalah segala sesuatu, baik grafis, teks, angka, maupun obyek lain yang dideskripsikan atau tersedia dalam bentuk numerik yaitu bilangan biner 0 dan 1 yang ditampilkan maupun tidak dengan bantuan peranti tertentu.
Ehmm… dari definisi diatas sudah dapat difahami kan, pa itu digital? Kalo saya mendifinisikan sendiri digital itu ya digital… hehehe, digital itu suatu bentuk objek yang dapat kita tangkap dengan indera penglihatan dengan bantuan piranti/perangkat lunak/computer.
Ditengah kemajuan teknologi yang serba digital atau digitalisasi, kita dihadapkan permasalahan-permasalahan yang dapat diselesaikan secara digital. Contoh, untuk berkomunikasi jarak jauh, antar pulau antar negara bisa dengan video call, secara virtual, dan kita bisa berkomunikasi serasa tidak ada jarak yang memisahkan kita. Mau makan, minum, belanja, dan lain sebagainya bisa dilakukan secara digital. Eiitssss beda konteks dengan judul lo ya… hehhehe.
Terus Beragama secara Digital itu apa dan bagaimana, lantas mengapa?
Hadeeeh… jadi banyak pertanyaan sendiri nih, key satu persatu ya.
Beragama secara Digital dapat kita fahami bahwa untuk memahami ajaran agama/ beribadah, bermuámalah bisa dilakukan secara digital. Eitsss… tapi jangan digebyah uyah loya... ntar sholatnya digital, haji digital, puasa digital… tapi tidak menutup kemungkinan bagi kita untuk memahami beribadah yang benar secara digital. Okey.
Terkadang bagi kita yang awam masih terdapat keraguan untuk belajar agama melalui media-media digital, seperti TV, Youtube, Website, lebih-lebih blog, hehhe. Karena terkadang pembuat konten (content creator) tidak menunjukan latar belakang yang meyakinkan bahkan menyembunyikan identitasnya.
Oleh karenannya, saya akan memberikan beberapa saran dan masukkan beragama secara digital sebagai berikut:
  1. Sumber (konten keagamaan) yang dibaca dari media digital baik web, blog, medsos, dan lain sebagainya harus valid dan terpercaya.
  2. Didasari dengan dalil naqli dan aqli yang dapat difahami dengan akal sehat.
  3. Tidak mengandung unsur kebencian, atau keberpihakan terhadap paham yang ekstrem. Sehingga nantinya dapat berdampak pada pemahaman radikal. Contoh kecilnya adalah menyalahkan suatu ajaran agama tertentu dengan dalih sepihak untuk menghukumi seseorang sebagai kafir, biasanya pemahaman ini digunakan oleh kaum takfiri.
  4. Sumber atau referensi yang kita baca membuat kita jadi lebih memahami keberagaman, khasanah keilmuan tentang agama.
  5. Menjadikan kita lebih baik, dalam artian kita mampu menggunakan pemahaman dari sumber atau referensi yang kita baca tersebut dan mengamalkannya tanpa mendiskriminasi orang lain dengan pemahaman yang berbeda.
  6. Terpenting adalah mampu menjadikan kita lebih moderat, toleran, ramah dan adil dalam beragama.
Mungkin itu beberapa uraian panjang lebar yang mungkin masih blunder. Namun pada intinya sharing kali ini adalah bagaimana kita terus selalu untu belajar meski kita mempunyai keterbatasan untuk belajar agama baik dipesantren maupun di madrasah atau lainnya, sehingga kita memanfaatkan media digital untuk belajar agama.
Semoga para pemuka agama, cendekiawan, khususnya beragama Islam diharapkan terus memberi warna didunia maya untuk mencerdaskan ummat dengan memberikan wejangan, suguhan khasanah keilmuan agama sebagai penunjuk jalan menuju jalan yang di ridhoi Allah SWT. Wallahuálam bishowab
Wassalamuálaikum Warohmatullohi Wabarokatuh. 

0 comments :

Post a Comment